Selasa, 01 November 2011

Etika Bisnis Dalam Dunia Modern

Tolak ukur untuk tiga sudut pandang ini adalah :

1. Ekonomis, bisnis adalah baik, kalau menghasilkan laba.

2. Hukum, bisnis adalah baik, jika diperbolehkan oleh hukum.

3. Etika atau moral, bisnis lebih sulit ditentukan baik tidaknya bila dilihat dari sudut pandang moral/etika.

Menurut K. Bertens (2000) yang menjadi tolok ukur untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan atau tingkah laku adala :

1. Hati Nurani

2. Kaidah Emas

3. Penilaian Umum

Perkembangan Etika Bisnis

Menurut Richard De George (K.Bertens, 2000:37) mengusulkan untuk membedakan antara ethics in business dan business ethics (antara etika dalam bisnis dan etika bisnis). Sejak ada bisnis, sejak saat itu pula bisnis dihubungkan dengan etika.

Etika bisnis dalam arti khusus ini untuk pertama kali timbul di Amerika Serikat dalam tahun 1970-an dan cepat meluas ke kawasan dunia lainnya.

1. Situasi Dahulu

2. Masa peralihan tahun 1960-an

3. Etika bisnis lahir di Amerika Serikat tahun 1970-an

4. Etika bisnis meluas ke Eropa tahun 1980-an

5. Etika bisnis menjadi fenomena global tahun 1990-an

Profil Etika Bisnis Dewasa ini

Etika bisnis sudah mencapai status sebagai sumber bidang intelektual dan akademis yang patut diperhitungkan.

1. Praktis disegala bidang kawasan dunia etika bisnis diberikan sebagai mata kuliah di perguruan tinggi (menurut dugaan De George tahun 1987 di Amerika Serikat)

2. Banyak sekali publikasi diterbitkan tentang etika bisnis (menurut De George tahun 1987 di Amerika Serikat menyebutkan paling sedikit 20 buku pegangan etika bisnis dan 3 serial buku tentang etika bisnis)

3. Sudah cukup banyak jurnal ilmiah khusus tentang etika bisnis.

4. Kamus etika bisnis dalam berbahasa Jerman (judul : Lexikon der Wirtschaftsethik tahun 1993)

5. Sudah didirikan beberapa asosiasi atau himpunan dengan tujuan khusus memajukan etika bisnis.

6. Di Amerika Serikat dan Eropa Barat disediakan beberapa program studi tingkat S-1 dan S-3, khusus di bidang etika bisnis.

7. Sekarang dapat ditemukan juga banyak institut penelitian yang secara khusus mendalami masalah etika bisnis.

ETIKA DALAM BISNIS INTERNASIONAL

Dalam perspektif sejarah, perdagangan merupakan faktor penting dalam pergaulan antara bangsa-bangsa. Sejarawan besar dari Skotlandia, William Robertson (1721-1793), menegaskan bahwa, “perdagangan memperlunak dan memperluas cara pergaulan manusia.

Sedangkan filsuf dan ahli ilmu politik perancis, Montesquieu (1689-1755) bahwa, “hampir menjadi gejala umum bahwa dimana adat istiadat bersifat halus, di situ ada perdagangan, dan dimana ada perdagangan, di situ adat istiadat bersifat halus”.

Etika Pasar Bebas

David Gauthier (K. Bertens, 2000:139) mengatakan bahwa pasar yang sempurna tidak membutuhkan moralitas. Moralitas baru diperlukan bila pasar gagal atau mempunyai kekurangan-kekurangan.

Alasan tidak dibutuhkan moralitas :

1. Kompetisi berjalan dengan sempurna

2. Kepentingan-kepentingan pribadi masing-masing orang secara sempurna sesuai dengan kepentingan sosial seluruh masyarakat.

3. Setiap orang mengejar kepentingan diri yang selalu sejalan dengan dengan kepentingan diri dari pihak lain.

4. Semua orang mengambil keputusan rasional yang selalu cocok dengan keputusan rasional yang tepat dari orang lain.

Aspek-aspek etis dari korporasi multinasional

Korporasi multinasional (KMN) adalah perusahaan yang mempunyai investasi langsung dalam dua negara atau lebih.

Bentuk pengorganisasian KMN bisa berbeda-beda. Biasanya perusahaan-perusahaan di negara lain sekurang-kurangnya untuk sebagian dimiliki oleh orang setempat, sedangkan manajemen dan kebijakan bisnis yang umum ditanggung oleh pimpinan perusahaan di negara asalnya.

Menurut De George (K. Bertens, 2000:359)

Sepuluh aturan yang berguna untuk menilai etis tidaknya kegiatan Korporasi Multinasional (KMN) diantaranya tujuh norma pertama berlaku untuk semua KMN, sedangkan tiga aturan terkahir terutama dirumuskan untuk industri berisiko khusus seperti pabrik kimia atau pabrik nuklir. Kesepuluh aturan ini yaitu:

1. Korporasi multinasional tidak boleh dengan sengaja mengakibatkan kerugian langsung.

2. Korporasi multinasional harus menghasilkan lebih banyak manfaat daripada kerugian bagi negara di mana mereka beroperasi.

3. Dengan kegiatan korporasi multinasional itu harus memberi kontribusi kepada pembangunan negara di mana ia beroperasi.

4. Korporasi multinasional harus menghormati Hak Asasi Manusia dari semua karyawannya.

5. Sejauh kebudayaan setempat tidak melanggar norma-norma etis, korporasi multinasional harus menhormati kebudayaan lokal itu dan bekerja sama dengannya, bukan menentangnya.

6. Korporasi multinasional harus membayar pajak yang fair.

7. Korporasi multinasional harus bekerja sama dengan pemerintah setempat dalam mengembangkan “beckground institutions“ yang tepat.

8. Negara yang memiliki mayoritas saham sebuah perusahaan harus memikul tanggung jawab moral atas kegiatan dan kegagalan perusahaan.

9. Jika suatu korporasi multinasional membangun pabrik yang berisiko tinggi, ia wajib menjaga supaya pabrik itu aman dan dioperasikan dengan aman.

10. Dalam mengalihkan teknologi berisiko tinggi kepada negara berkembang, korporasi multinasional, wajib merancang kemblai sebuah teknologi demikian rupa, sehingga dapat dipakai dengan aman dalam negara baru yang belum berpengalaman.

Selasa, 11 Oktober 2011

Makna Pokok dan Manfaat Etika Bisnis Bagi Perusahaan

Secara konkret teori etika ini sering difokuskan pada perbuatan. Perbuatan yang baik yang dimaksudkan adalah baik dari sudut pandang moral, bukan dari sudut pandang teknis atau sebagainya. Karena bisa saja, menurut segi teknisnya suatu perbuatan adalah baik sekali, tapi dari sudut moral perbuatan itu justru buruk karena itu harus ditolak.

Bisa dikatakan juga bahwa teori etika membantu kita untuk menilai keputusan etis. Teori etika menyediakan kerangka yang memungkinkan kita memastikan benar tidaknya keputusan moral kita. Teori etika menyediakan justifikasi untuk suatu keputusan.

Etika bisnis adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industri dan juga masyarakat. Kesemuanya ini mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis secara adil (fairness), sesuai dengan hukum yang berlaku (legal) tidak tergantung pada kedudukani individu ataupun perusahaan di masyarakat.

Etika bisnis pertama kali timbul di Amerika Serikat dalam tahun 1970-an dan cepat meluas ke kawasan dunia lainnya.

  1. Situasi Dahulu
  2. Masa peralihan tahun 1960-an
  3. Etika bisnis lahir di Amerika Serikat tahun 1970-an
  4. Etika bisnis meluas ke Eropa tahun 1980-an
  5. Etika bisnis menjadi fenomena global tahun 1990-an

Profil Etika Bisnis Dewasa ini sudah mencapai status sebagai sumber bidang intelektual dan akademis yang patut diperhitungkan.

1. Praktis disegala bidang kawasan dunia etika bisnis diberikan sebagai mata kuliah di perguruan tinggi (menurut dugaan De George tahun 1987 di Amerika Serikat)

2. Banyak sekali publikasi diterbitkan tentang etika bisnis (menurut De George tahun 1987 di Amerika Serikat menyebutkan paling sedikit 20 buku pegangan etika bisnis dan 3 serial buku tentang etika bisnis)

3. Sudah cukup banyak jurnal ilmiah khusus tentang etika bisnis.

4. Kamus etika bisnis dalam berbahasa Jerman (judul : Lexikon der Wirtschaftsethik tahun 1993)

5. Sudah didirikan beberapa asosiasi atau himpunan dengan tujuan khusus memajukan etika bisnis.

6. Di Amerika Serikat dan Eropa Barat disediakan beberapa program studi tingkat S-1 dan S-3, khusus di bidang etika bisnis.

7. Sekarang dapat ditemukan juga banyak institut penelitian yang secara khusus mendalami masalah etika bisnis.

Tiga makna pokok dari etika bisnis yaitu : dari sudut pandang ekonomi, hukum dan etika.

1. Sudut pandang ekonomis.
Bisnis adalah kegiatan ekonomis. Yang terjadi disini adalah adanya interaksi antara produsen/perusahaan dengan pekerja, produsen dengan konsumen, produsen dengan produsen dalam sebuah organisasi. Kegiatan antar manusia ini adalah bertujuan untuk mencari untung oleh karena itu menjadi kegiatan ekonomis. Pencarian keuntungan dalam bisnis tidak bersifat sepihak, tetapi dilakukan melalui interaksi yang melibatkan berbagai pihak.
Dari sudut pandang ekonomis, good business adalah bisnis yang bukan saja menguntungkan, tetapi juga bisnis yang berkualitas etis dan beretika.

2. Sudut pandang moral.
Dalam bisnis, berorientasi pada profit, adalah sangat wajar, akan tetapi jangan keuntungan yang diperoleh tersebut justru merugikan pihak lain. Tidak semua yang bisa kita lakukan boleh dilakukan juga. Kita harus menghormati kepentingan dan hak orang lain. Pantas diperhatikan, bahwa dengan itu kita sendiri tidak dirugikan, karena menghormati kepentingan dan hak orang lain itu juga perlu dilakukan demi kepentingan bisnis kita sendiri.

3. Sudut pandang Hukum
Bisa dipastikan bahwa kegiatan bisnis juga terikat dengan “Hukum” Hukum Dagang atau Hukum Bisnis, yang merupakan cabang penting dari ilmu hukum modern. Dan dalam praktek hukum banyak masalah timbul dalam hubungan bisnis, pada taraf nasional maupun international. Seperti etika, hukum juga merupakan sudut pandang normatif, karena menetapkan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Dari segi norma, hukum lebih jelas dan pasti daripada etika, karena peraturan hukum dituliskan hitam atas putih dan ada sanksi tertentu bila terjadi pelanggaran.

Ada 3 jenis masalah yang dihadapi dalam Etika yaitu

a.Sistematik

Masalah-masalah sistematik dalam etika bisnis pertanyaan-pertanyaan etis yang muncul mengenai sistem ekonomi, politik, hukum, dan sistem sosial lainnya dimana bisnis beroperasi.

b.Korporasi

Permasalahan korporasi dalam perusahaan bisnis adalah pertanyaan-pertanyaan yang dalam perusahaan-perusahaan tertentu. Permasalahan ini mencakup pertanyaan tentang moralitas aktivitas, kebijakan, praktik dan struktur organisasional perusahaan individual sebagai keseluruhan.

c.Individu

Permasalahan individual dalam etika bisnis adalah pertanyaan yang muncul seputar individu tertentu dalam perusahaan. Masalah ini termasuk pertanyaan tentang moralitas keputusan, tindakan dan karakter individual.

Manfaat Etika Bisnis bagi Perusahaan :
1. Dapat meningkatkan kredibilitas suatu perusahaan, karena etika telah dijadikan sebagai corporate culture. Hal ini terutama penting bagi perusahaan besar yang karyawannya tidak semuanya saling mengenal satu sama lainnya. Dengan adanya etika bisnis, secara intern semua karyawan terikat dengan standard etis yang sama, sehingga akan mefigambil kebijakan/keputusan yang sama terhadap kasus sejenis yang timbul.
2. Dapat membantu menghilangkan grey area (kawasan kelabu) dibidang etika. (penerimaan komisi, penggunaan tenaga kerja anak, kewajiban perusahaan dalam melindungi lingkungan hidup).
3. Menjelaskan bagaimana perusahaan menilai tanggung jawab sosialnya.
4. Menyediakan bagi perusahaan dan dunia bisnis pada umumnya, kemungkinan untuk mengatur diri sendiri (self regulation)
5. Bagi perusahaan yang telah go publik dapat memperoleh manfaat berupa meningkatnya kepercayaan para investor. Selain itu karena adanya kenaikan harga saham, maka dapat menarik minat para investor untuk membeli saham perusahaan tersebut.
6. Dapat meningkatkan daya saing (competitive advantage) perusahaan
7. Membangun corporate image / citra positif , serta dalam jangka panjang dapat menjaga kelangsungan hidup perusahaan (sustainable company).

Tidak bisa dipungkiri, tindakan yang tidak etis yang dilakukan oleh perusahaan akan memancing tindakan balasan dari konsumen dan masyarakat dan akan sangat kontra produktif, misalnya melalui gerakan pemboikotan, larangan beredar, larangan beroperasi dan lain sebagainya. Hal ini akan dapat menurunkan nilai penjualan maupun nilai perusahaan.
Sedangkan perusahaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika bisnis, pada umumnya termasuk perusahaan yang memiliki peringkat kepuasan bekerja yang tinggi pula, terutama apabila perusahaan tidak mentolerir tindakan yang tidak etis, misalnya diskriminasi dalam sistem remunerasi atau jenjang karier.

Namun haruslah diyakini bahwa pada dasarnya praktek etika bisnis akan selalu menguntungkan perusahaan baik untuk jangka panjang maupun jangka menengah karena :
• Mampu mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi, baik internal perusahaan maupun dengan eksternal.
• Mampu meningkatkan motivasi pekerja.
• Melindungi prinsip kebebasan berniaga
• Mampu meningkatkan keunggulan bersaing.

Perlu dipahami, karyawan yang berkualitas adalah aset yang paling berharga bagi perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan harus semaksimal mungkin harus mempertahankan karyawannya.
Untuk memudahkan penerapan etika perusahaan dalam kegiatan sehari-hari maka nilai-nilai yang terkandung dalam etika bisnis harus dituangkan kedalam manajemen korporasi yakni dengan cara :
• Menuangkan etika bisnis dalam suatu kode etik (code of conduct)
• Memperkuat sistem pengawasan
• Menyelenggarakan pelatihan (training) untuk karyawan secara terus menerus.

Manfaat dan kesulitan aneka macam kode etik perusahaan

Menurut Patrick Murphy (K. Bertens, 2000:381) menggunakan istilah umum ethics statements yang dibedakan dalam tiga hal yaitu :

a. Terdapat values statements pernyataan nilai.

b. Ada corporate credo atau kredo perusahaan.

c. Terdapat kode etik dalam arti sempit; code of conduct atau code of ethical conduct.

Manfaat kode etika:

1. Kode etik dapat meningkatkan kredibilitas suatu perusahaan.

2. Kode etik dapat membantu dalam menghilangkan grey area atau kawasan kelabu di bidang etika

3. Kode etik dapat menjelaskan bagaimana perusahaan menilai tanggungjawab sosialnya.

4. Kode etik menyediakan bagi perusahaan dan dunia bisnis pada umumnya kemungkinan untuk mengatur dirinya sendiri.

Beberapa kritikan kode etik :

1. Kode etik perusahaan sering kali merupakan formalitas belaka.

2. Banyak kode etik perusahaan dirumuskan dengan terlalu umum

3. Kritik yang paling berat adlaah bahwa jarang sekali tersedia enforcement (penyelenggaran) untuk kode etik perusahaan.

Untuk menjamin keefektifan kode etik, maka perlu memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:

1. Kode etik sebaiknya dirumuskan berdasarkan masukan dari semua karyawan, sehingga mencerminkan kesepakatan semua pihak yang terikat olehnya.

2. Harus dipertimbangkan dengan teliti bidang-bidang apa dan topik-topik mana sebaiknya tercakup oleh kode etik perusahaan.

3. Kode etik perusahaan sewaktu-waktu harus direvisi dan disesuaikan dengan perkembangan intern maupun ekstern.

4. Yang paling penting adalah bahwa kode etik perusahaan ditegakkan secara konsekuen dengan menerapkan sanksi.

Gerakan etika bisnis mulai bergulir di Amerika Serikat setelah terjadi sejumlah skandal bisnis.

1. Etika bisnis hanya bisa berperan dalam suatu komunitas moral

2. Orang yang berpendapat “dengan berpegang pada etika kita pasti kalah“, kemungkinan besar terlalu menitikberatkan jangka pendek dalam proses berbisnis dan mengabaikan jangka panjang.

3. Mereka yang meragukan perlunya etika dalam bisnis sebaiknya tidak melupakan sejarah industrialisme dan khususnya perjuangan antara liberalisme dan sosialisme.

4. Akhirnya, orang yang belum diyakinkan tentang pentingnya etika dalam bisnis, perlu mempertimbangkan persepsi dunia luar tentang kinerja bisnis Indonesia.

Sumber:

http://davidsintong.wordpress.com/2011/10/10/makna-pokok-etika-bisnis/

http://kolom.pacific.net.id/ind/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=261

http://www.scribd.com/doc/18575776/ETIKA-BISNIS

Selasa, 03 Mei 2011

Resume BI2 Softskill2011

RESUME BUKU

Judul : Bung Hatta dan Ekonomi Islam

Pengarang : Anwar Abbas

Penerbit : PT Kompas Media Nusantara

(Cetakan Pertama, Juni 2010)

Pengantar : Prof. Dr. Sri-Edi Swasono

BAB I

TITIK AWAL MENGENAI PEMIKIRAN BUNG HATTA

· Menurut Endang Saifuddin Anshari, Hatta dikelompokkan ke dalam nasionalis muslim “sekuler” bersama Sukarno dan Muhammad Yamin.

· Hatta ingin membangun sebuah system ekonomi yang sesuai dengan watak bangsa Indonesia, yang religious dan memiliki nilai-nilai luhur yang menjunjung tinggi prinsip dan cita-cita tolong-menolong (sosialisme), bukan mementingkan diri sendiri (individualism), sekuler dan ateistis.

BAB II

BIOGRAFI SOSIAL POLITIK BUNG HATTA

· Muhammad Hatta lahir di bukit tinggi, pada 12 agustus 1902 dari ayah bernama Haji Muhammad Jamil dan ibu bernama Siti Suleha. Hatta memiliki empat orang adik yang semuanya adalah perempuan. Hatta memiliki kepribadian yang lemah lembut serta penuh dengan sopan santun.

· Pada usia 6 tahunm, Hatta masuk sekolah rakyat dan pada pertengahan tahun ajaran, ia pindah ke sekolah Belanda, yaitu Europese Lagere School (ELS).

· Pada tahun 1916, Hatta melanjutkan sekolah di Meer Uitgebreid Lagere Onderwiys (MULO). Setelah lulus Hatta melanjutkan ke sekolah dagang Prins Hendrik School di Jakarta. Dan pada 3 agustus 1921, Hatta berlayar dari teluk bayur menuju Belanda untuk melanjutkan kuliah di Handels Hoogere School.

· Di kota padang, Hatta brkenalan dengan tokoh-tokoh local seperti Sutan Said Ali dan Taher Marah Sutan.

· Pada 23 September 1927, Hatta ditangkap bersama tiga orang rekannya yaitu Nazir Datuk Pamuncak, Ali Sustroamidjojo, dan Abdul Kadir Joyodiningrat.

· Pada 25 Januari 1934, Hatta ditangkap oleh pemerintah Belanda ketika sedang berada di Jakarta dan pada 16 november 1934 keluarlah keputusan pengadilan untuk mengasingkan Hatta bersama enam orang pengurus PNI baru lainnya ke Boven Bigol.

· Pada februari 1937, Hatta dan Sjahrir di pindahkan ke Banda Naira.

BAB III:

FALSAFAH DAN CITA-CITA SOSIAL EKONOMI

· Menurut Sri Ediswasono, cita-cita dan konsep ekonomi yang hendak dikembangkan oleh Hatta adalah terkait pada tauhid dengan segala kedalamannya. Ide-ide yang tidak terlepas bahkan lahir berdasarkan hakikat kehidupan bangsa ataupun manusia sebagai khalifah.

· Tujuan pembangunan ekonomi yang ditawarkan Hatta tidak hanya sekedar mencapai pertumbuhan dan perkembangan fisik material semata, tetapi juga spiritual, supaya bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa yang bahagia, sejahtera, damai, dan merdeka.

BAB IV

NILAI FUNDAMENTAL DAN INSTRUMENTAL EKONOMI

· Nilai dasar ekonomi:

1. Nilai dasar kepemilikan

2. Nilai dasar keadilan

3. Nilai dasar kebersamaan dan kekeluargaan

· Nilai-nilai instrumental ekonomi hatta:

1. Kerjasama ekonomi dan koperasi

2. Demokrasi ekonomi

BAB V

DINAMIKA EKONOMI DAN GLOBALISASI

· Arah, tujuan dan program pembangunan ekonomi:

Ø Memenuhi kebutuhan pokok dan jaminan social

Ø Meningkatkan tenaga beli rakyat:

a. Meningkatkan upah/gaji

b. Mengangkat desa ke tingkat kota

c. Meningkatkan kemampuan menabung

d. Memperbaiki tenaga produktif

Ø Pembangunan infrastruktur perhubungan dan transmigrasi

Ø Bantuan dan pinjaman luar negeri

Ø Penataan pertanahan (landreform) dan lingkungan hidup

Ø Penataan ekspor dan impor

· Globalisasi dan ekonomi bangsa:

Ø Filsafah ekonomi yang berketuhanan dan manusiawi

Ø Persaudaraan internasional yang hakiki

Ø Koperasi dan pengentasan kemiskinan

Ø Pemberdayaan dan pendidikan SDM

Ø Peningkatan daya beli masyarakat

Ø Landreform

Ø Lingkungan hiduo

Ø Modal asing

Ø Anti monopoli dan melindungi masyarakat

Ø Ekonomi Indonesia dan ekonomi dunia

BAB VI

KESIMPULAN

· Sistem ekonomi yang hendak dikembangkan oleh Hatta adalah system ekonomi yang berketuhanan.